Pemayungnews.id – JAMBI — Pemandangan tak biasa sekaligus menyayat hati kembali mewarnai jalanan Kota Jambi. Pembedanya kini adalah warna langit yang berubah kekuningan dan kabut asap tebal yang menyelimuti seluruh penjuru kota. Namun, di tengah ancaman bahaya kesehatan dan sesaknya udara, detak kehidupan masyarakat kecil tidak serta-merta berhenti.
Dalam sebuah potret yang menggetarkan hati, tampak beberapa buruh angkut tengah sibuk membongkar muatan karung beras dari atas bak truk. Salah seorang di antaranya bekerja tanpa mengenakan baju, sementara rekannya yang lain hanya menutupi kepala dan leher menggunakan kain seadanya. Karung demi karung berat mereka angkat satu per satu di bawah bayang-bayang polusi udara yang pekat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi para pekerja harian ini, pilihan untuk “tetap di dalam rumah” seperti yang sering diimbau saat bencana kabut asap adalah sebuah kemewahan yang tak mungkin terjangkau. Berhenti bekerja sehari berarti tak ada makanan yang bisa disajikan di meja makan untuk anak dan keluarga mereka di rumah. Kasih sayang seorang ayah mengalahkan rasa takut akan bahaya ISPA yang mengintai paruparu mereka.
Foto ini sekaligus menjadi pesan terbuka yang sangat kuat bagi pihak pemerintah. Para pekerja jalanan ini berharap pemerintah tidak hanya berfokus pada statistik dan penanganan dari jarak jauh, tetapi juga benar-benar melihat dan memperhatikan nasib rakyat kecil di lapangan.
Mereka memohon perhatian nyata dari pemerintah—mulai dari pembagian masker gratis berstandar kesehatan di area kerja publik, akses pemeriksaan kesehatan gratis bagi pekerja lapangan, hingga solusi konkret atas penanganan asap yang kerap berulang. Bagi mereka, keselamatan udara adalah hak, namun memberi makan anak adalah kewajiban yang harus dituntaskan setiap hari.
Editor : Alamsyah






